AYAHKU TAK BISA TERGANTIKAN! INGAT ITU!!!



Dulunya aku berpikir ayah adalah sosok yang menyebalkan jika beliau mulai menyeramahiku dan memarahiku. Karena apa? Karena aku tidak pernah tau apa makna dan maksud dari semua kata-katanya. Hampir tiap hari aku membuatnya kesal dengan sikapku yang tidak pernah berubah. Kekanak-kanakan. Suka berkelahi dengan adik atau abangku. Suka membantah jika diberitahu. Suka mengalihkan pembicaraan. Tidak pernah mau mengalah. Selalu egois, dan lainnya. Ya, seperti halnya anak yang lain. Ayah selalu marah, marah, marah, dan marah kalo aku salah. SELALU! Pastinya aku nggak suka. Aku maunya ayah itu nggak cerewet dan banyak marah. Aku pingin sosok ayah yang bijaksana tapi tidak pemarah. Itu sosok impianku saat ayahku masih hidup. Tapi sekarang? Aku nyesal karena nggak bersyukur saat diberi Allah ayah terbaik sedunia. Aku punya ayah terbaik sedunia!!! Meskipun ayahku bukan seorang presiden, bukan seorang Kiai, bukan seorang direktur, dan bukan pria terpintar sedunia, tapi tetap, ayahku adalah pria terbaik! Kalo Ginny itu beneran ada, aku nggak butuh 3 permintaan. Aku cuma butuh satu aja. Aku ingin ayah kembali! Sekarang aku baru tau gimana rasanya nggak punya ayah. Kadang kalo ada teman yang nyeritain ayahnya yang ngeselin, aku rasanya pingin bilang ke mereka semua. Kalo aku iri! Aku iri! Aku pingin punya ayah! Aku butuh bapak Deni Wahyudi, ayahku! Yang bisa marahin aku. Yang bisa negur-negur aku. Yang bisa ngelakuin hal yang dulu beliau lakukan saat jadi ayahku. Aku benci pada orang-orang yang bertanya pada Bunda. Apakah sudah ada laki-laki yang mau jadi pengganti ayah. Aku benci mereka! Ayah aku nggak tergantikan! Ingat! Aku nggak sudi punya ayah lagi! Nggak sudi! Biar deh, aku nyusul ayah daripada mesti punya ayah baru lagi! Aku juga benci pada mereka yang bilang kalo aku ini anak yatim! Aku benci!!! Aku benci!!! Kenapa aku mesti nyandang gelar itu? Oke, faktanya emang aku anak yatim. Tapi please! Jangan pernah bilang didepan aku kaya gitu. Asal kalian semua tau. Kalo ada orang yang mampang muka kasihan dan nyebut aku anak yatim, rasanya aku pingin nampar dia! Aku nggak suka! Apalagi waktu itu, malam hari habis nguburin ayah di kampung. Ada yang nyebut aku anak yatim. Aku langsung nangis waktu itu juga. Dia kan tau aku lagi kemalangan. Jangan disebut “anak yatim” kaya gitu dong! Kan aku jadi inget kalo ayah udah nggak ada lagi! Minggu pertama setelah ayah meninggal itu, rasanya masih nggak terima kalo ayah itu udah nggak ada. Nggak tau kenapa. Mungkin karena emang aku sayaaaaaaaaaang banget sama ayah. Meskipun aku nggak bisa nunjukin seberapa aku sayang sama ayah itu waktu dia masih hidup. Dan aku juga benci pada orang yang nanya sama aku, “Gimana rasanya ayah nggak ada?”. Astaghfirullahal’adzim... Itu yang nanya masih punya hati ato nggak? Sampai saat ini, udah dua orang yang nanya seperti itu. Dan dua orang itu, adalah sodara aku sendiri! Innalillah... Aku nggak berniat untuk menyebarkan aib keluarga ato apapun. Karna emang seperti itu. Sodaraku sendiri yang menanyakan hal itu padaku. Sekarang, hidup terus dan masih berjalan. Ayah ninggalin banyak kenangan. Ninggalin banyak pelajaran. Ninggalin contoh. Ninggalin kelakuan baik. Ya, ayahku orang yang baik. Semua orang yang kenal sama beliau mengatakan itu. Dan ajaibnya, AKU BARU SADAR sekarang kalo ayahku memang pria yang baik. Telfon dari Ibu, kakaknya ayah bulan Februari yang lalu bikin aku tambah sadar. Kalo aku benar-benar kehilangan harta paling berharga yang diberikan Allah padaku. Ibu bilang, aku harus bersyukur pernah punya orangtua seperti ayah. Sekarang dimana-mana ayah meninggalkan kenangannya. Mobil kesayangannya, topi-topinya, sepatu-sepatunya, jam-jamnya, hpnya, baju-bajunya, komputer yang selalu ayah pake untuk OL, kacamatanya, sofa tempat dia ketiduran kalo kelelahan, dll. Ayah emang nggak mungkin bawa barang-barang kesayangannya. Jadi kami harus menjaga barang-barang pusaka itu. Sampai saat ini, kalo lagi nggak keingat ayah, rasanya ayah itu lagi pergi keluar kota dan pulang lama. Tapi kalo lagi keingat ayah, aku bisa nangis... Di kamar aku sering nangis sendiri kalo habis kena omel bunda ato habis kena marah sama bang Aka. Momen itu yang paling bikin sedih untuk saat ini... Hh. Sekian...

Share this:

0 Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Wanna leave a comment?