Ayahku... (╥﹏╥) (Cerpen)

Kumis tebal, celana pendek untuk di rumah. Tegar dan penuh semangat. Tampangnya tidak sesuai dengan usianya. Bagiku beliau sangat tampan. Jadi wiraswasta membuka beberapa usaha yang Alhamdulillah bisa membantu orang lain. Asap rokok selalu membumbung di dekatnya. Kalau sedang bekerja bisa lupa waktu. Membersihkan rumput di sekeliling rumah, menyetrika pakaian, membersihkan rumah jika bunda tidak sempat, mengurusi akuarium kesayangannya, rajin berolahraga badminton, dan lain-lain. Tidak pernah bermalas-malasan. Paling-paling kalau masuk angin dan batuk-batuk. Minta diolesi minyak kayu putih adalah kegiatan wajib kami anak-anaknya setiap malam. Duduk-duduk di sofa ruang tengah sambil memegang handphone-nya jika sedang santai. Selalu suka bercanda dan melucu. Itulah ayahku. 

“Anakku diterima di MTsN! Dia masuk lokal unggulan!” itu yang diteriakkan ayah ketika aku diterima di sekolahku sekarang, MTsN Andalan Pekanbaru seusai menamatkan pendidikan dasarku. Sambil menjinjing handphone, beliau mengabarkan ke saudara-saudara kami. Beliau sangat senang karena aku anak perempuan satu-satunya sudah SMP sekarang. Beliau sangat berisik dan sangat sibuk dengan pendaftaran SMP ku.Harus jadi anak yang pintar ya! Jangan hanya pintar sampai SD saja. Hahaha…” kata beliau mantap sambil diiringi tawanya yang khas. Tapi aku tahu dalam hatinya dia sedih karena aku semakin dewasa sekarang.

Sejak SD, ayah yang selalu mengantar jemputku sekolah dengan mobil. Waktu ayah masih kerja di PT.Chevron sampai aku kelas 3 SD, ayah mengantar jemputku dengan motor yang ia bawa kerja. Pergi-pergi urusan sekolahpun, ayah yang selalu sedia mengantar. Kerja kelompok-kerja kelompok? Keharusan ayahku mengantarkan sampai tempat tujuan.

Tak terasa aku sudah kelas 2 SMP. Kerja kelompok semakin banyak. Aku sering pulang sekolah tak tepat waktu. Tak jarang ayah mengomeliku di telepon jika aku tidak mengabari dulu ingin pulang lama. Dan aku masih ingat benar ayah sering menungguku pulang di atas mobil. Jika aku sudah naik ke atas mobil, ayah selalu berkata, “Kok lama kali pulangnya?” Selalu begitu.

Ayah sempat gusar melihatku yang terlalu sering kerja kelompok ini itu. Sering juga ayah mengeluh karena pada hari Minggu pun, aku harus ke pustaka wilayah untuk kerja kelompok. Ayah selalu mengajakku sarapan dulu di Kimteng, Pustaka Wilayah setiap beliau mengantarku.

Sejak masuk MTsN, aku belum pernah masuk 10 besar saat terima rapor semester atau kenaikan kelas. Aku tau sebetulnya ayah kecewa. Tapi ayah tak pernah memperlihatkan wajah kecewanya. Yang ada beliau selalu mentraktirku makan, dll seusai terima rapor.

Ayah selalu perhatian padaku. Kata saudara-saudaraku, aku ini anak ayah. Ya tentu saja aku juga anak bundaku. Karena bunda yang telah melahirkanku. Tapi karena perhatian ayah itu sangat besar padaku, makanya aku disebut anak ayah. Kalau aku sedang apa-apa, ayah selalu menjadi pahlawanku.

Meskipun begitu, tetap saja aku sering berselisih paham dengan ayah. Kadang aku ngambek kalau sudah begitu. Ayahku meskipun sangat baik, tetap saja seperti sikap aslinya. Yakni pemarah. Setiap ayah memang begitu ya? Ayahku itu sebetulnya pemarah. Ayahku tidak suka kalau ada yang berbohong. Ayahku juga tidak suka kalau ada yang tidak disiplin. Kata bunda, ayah itu begitu karena angku (panggilanku pada papanya ayah) juga begitu.

Ayah sering sekali marah pada abangku. Soalnya abangku itu sangat nakal dan susah diatur. Namanya juga remaja. Aku mengerti sekali mengapa ayah suka marah dan kadang sampai main tangan dengan abangku. Abangku itu suka sekali cari gara-gara dan memberontak.

Sejak pertengahan tahun 2010, kalau sedang kesal ayah sering sekali mengucapkan, “Lihatlah kalian kalau aku sudah tidak ada nanti.” Kami tentu saja hanya mengira ucapan itu hanya gertakan belaka.

24 Januari 2011, Ayahku kembali kepada-Nya. Aku menyaksikan proses sakit hingga meninggalnya ayah. Hari itu adalah hari paling mencekam bagiku. Hari yang paling tidak aku inginkan ada. Hari yang ingin aku hapus saja dari memori otakku. Tapi tak bisa. Kulihat asad ayah terbujur kaku. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi marah. Tak ada lagiAku kecup kedua pipi dan kening ayah. Itulah hal terakhir yang kulakukan pada jenazah ayah. 

Ayah, tempatku berbagi cerita setelah bunda. Beliau begitu berharga bagiku. Beliau pahlawanku. Beliau adalah panutanku yang takkan kulupa. Beliau sudah menghadapi kerasnya hidup. Beliau mampu melewati likuan hidup dengan baik. Manis, asam, pahit kehidupan sudah dirasakannya. Termasuk pahitnya mendidikku…

***

Aku bergegas ingin segera menuju ke suatu tempat. Aku memakai jaket karena udara Bukittinggi cukup dingin. Hari sudah sore. Sebentar lagi kami akan berangkat kembali ke Pekanbaru. Ku percepat langkahku, berharap segera sampai di tempat yang kutuju: menemui ayahku sendirian, untuk berpamitan dan mengobrol sebentar.

Setelah berjalan sekitar beberapa meter, akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang aku tuju. Kuucapkan salam. Aku melangkahkan kakiku dengan mantap. Aku mendekati tempat dimana kini ayah berada. Batu nisan hitamnya yang baru beberapa hari dipasang, sungguh membuat makam ayah tampak sangat gagah. Kupanjatkan doa-doa dan kuceritakan beberapa hal yang kuanggap sangat perlu kuceritakan pada ayah. Rasanya ingin menangis. Tapi kukurungkan niatku. Entah mengapa angin berhembus cukup kencang di arah belakangku. Tentu saja aku merinding. Tapi aku hanya menganggap, itu sambutan baik dari ayahku diatas sana. Kalau bukan karena ada makam ayahku, pasti aku sudah lari terbirit-birit.

Cerita pendek ini bukan cerita bualan belaka. Inilah sepenggal kisah yang bisa kujabarkan tentang ayahku. Ini nyata. Inilah ayah, dipandanganku. (Lahir : Padang, 16 Desember 1966 | Wafat : 24 Januari 2011) Mengenang almarhum Ayahku Tercinta.


Aku dan Ayah (Maaf akunya agak aneh tampangnya -_- Lagi badmood2nya ntu) 
Ini dia batu nisan barunya Ayah:")


Oh iya, ini cerpennya bisa aku selesaikan dalam rangka tugas b.indo. Yakni membuat cerpen sesuai pengalaman pribadi. Nah, kebetulan bets kan? Dan Alhamdulillah ya se-su-a-tu-nya aku mampu menyelesaikan cerpen ini dalam waktu yang tak terlalu lama. Horaiy! Ini satu-satunya cerpen yang sukses dan berhasil kubuat. AMAZING banget kan? (=v=") Kata Syania, aku bikin cerpennya ni terlalu ngena dan spesifik kali. Aah masa sih? --" Terus tadi kan pertama si SyaniaTasia baca, eeh mata mereka berkaca-kaca gitu (╥﹏╥) U,U Terus si Dinda ikutan. Eeh malah si Dinda nangis. Terus yang lain langsung penasaran sama cerpen yg berhasil bikin Dinda nangis ituh-_- Dinda sih terlalu menghayati isi dan kandungan cerpennya. Eh tapi emang iyasih, aku aja bikinnya dengan linangan air mata. Air mata tiba-tiba aja jatuh gitu. Terus yaa, akhirnya si RahmiBulan menyusul baca ntuh cerpen. DAN? Nangis juga._.v Terus si GafarArsyad baca. Eeh komentar mereka, "SERUUU!!! MENEGANGKAN!!!" Seru menegangkan dari mana broo? ----__---- Sedih atuuh. Tapi si Arsyad emang matanya udah agak lain gitu. YES! Berhasil bikin beberapa anak orang nangis nih cerpen :D Prestasi bangeeeet. Terus yaw, dioper-oper kertas aku tu sampe-sampe lecek----" Please lah woiy! Kasihani juga kertas 2 lembar itu. Mereka tak bedosaa :'( Daaan, ntah kenapa bisaa, akhirnya kertas itu kembali juga kepadakuuu (Y). Rasanya puas juga ya bikin cerpen yang bisa menyentuh hati pembacanya kek gini. Thankyou Allah. Thankyou Ayah. Thankyou Bunda.


I love you to fullest, ayah... ♡♡♡


your dearest princess, my king.

Share this:

0 Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Wanna leave a comment?