Hubungan Pertemanan Laki-laki dan Perempuanღ


Bagaimana hubungan pertemanan laki-laki dan perempuan dalam islam? Jawab : Assallammualaikum...Alhamdulillah. Seorang wanita muslimah, memiliki batasan hijab yang juga membatasi segala aktivitasnya agar terlindungi dari maksiat dan kerusakan. Hijab, bukan sekadar lembaran pakaian yang menutup aurat seorang wanita muslimah, namun juga lembaran ketakwaan yang membatasi segala gerak-gerik, ucapan dan perilaku wanita muslimah. Berkomunikasi dengan lawan jenis, boleh-boleh saja, asalkan hanya dalam batas yang memang diperlukan. Jangankan dengan lawan jenis, dalam segala hal saja, Umar bin Al-Khaththab pernah mengatakan, “Ucapan itu hanya ada empat, selain itu cuma sampah belaka. Pertama, membaca Al-Quran. Kedua, membaca hadits-hadits nabi. Ketiga, membaca ucapan-ucapan penuh hikmat dari para ulama. Keempat, berbicara hal yang penting, dalam soal keduniaan.” Itu, bagi setiap muslim dan muslimah. Tidak layak seorang muslim atau muslimah mengobrol dalam soal-soal keseharian secara berlebihan, karena semua itu ibarat sampah yang seringkali mengandung kotoran dosa dan maksiat. Apalagi, antara seorang muslimah dengan seorang muslim, yang harus saling menjaga kehormatan masing-masing. Memang, berbicara dengan lawan jenis diperbolehkan. Tapi para ulama, memberikan beberapa rambu, sesuai dengan berbagai nash dalam syariat yang ada.
  • Menahan Pandangan
  • Allah berfirman, ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …” (An-Nur: 30-31)
  • Menutup Aurat
  • Allah berfirman, ”… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya …” (An-Nur: 31) Artinya, bila harus berbicara dengan pria non mahram, seorang wanita muslimah harus menutup aurat sebatas yang dia yakini sebagai aurat, menurut dasar yang jelas.
  • Tenang dan Terhormat dalam Gerak-Gerik
  • Allah berfirman “… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32) Di sini, yang perlu dihindari oleh wanita muslimah saat berbicara dengan pria non mahram adalah tutur kata yang dibuat-buat, yang dibikin supaya menarik, mendayu-dayu, mendesah-desah, atau dengan menggunakan suara yang diperindah, terlalu lemah lembut, dan sejenisnya. Bicaranya harus tegas, lugas dan seperlunya saja.
  • Serius dan Sopan dalam Berbicara
  • Allah berfirman, “… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32) Artinya, seorang muslimah tidak layak banyak bergurau dan bercanda saat berbicara atau membicarakan sesuatu dengan lawan jenisnya. Karena, canda dan tawa itu dapat mengundang ketertarikan pihak lawan jenis. Dan itu bahaya yang perlu dihindari sebisa mungkin.
  • Hindari Membicarakan Hal-hal yang Tidak Perlu
  • Segala yang bersifat darurat, haruslah dibatasi sebisa mungkin. Meski berbicara dengan lawan jenis tidak selalu merupakan hal darurat bagi seorang wanita muslimah, namun berbicara secara panjang lebar bisa menyudutkan seorang wanita muslimah dalam kedaruratan. Karena itu akan bisa menggiringnya untuk sedikit banyak menyentuh hal-hal yang dianggap kurang baik, atau bahkan dilarang dalam Islam. Oleh sebab itu, coba batasi ruas-ruas pembicaraan, dan hindari topik-topik yang tidak perlu dibahas. Karena, bagaimanapun, seorang wanita adalah godaan bagi kaum lelaki. Bahkan godaan terberat baginya dalam segala situasi dan kondisi. Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (Al-Mukminun : 1-3) Berbicara lewat telpon, boleh-boleh saja. Dalam hal ini, setidaknya dengan tingkat kecanggihan media telpon yang umum hingga saat ini, soal pandangan haram bisa nyaris dihindarkan sama sekali. Tapi soal adab-adab lain dalam berbicara, harus tetap diperhatikan. wassallam
=========================================================================== Dikutip dari message sebuah grup di Facebook. Well, sebenarnya panduan atau tata cara dan batasan-batasan dalam bergaul dengan lawan jenis sudah cukup jelas tertulis di dalam Al-Qur'an. Akan tetapi pasti banyak yang kritis cenderung protes, apalagi yang muda2 nih,: kok gitu banget sih, lebay ah, masa' sampe segitunya, dll. Yeah, awalnya ane juga berpikir seperti itu. Kok ribet banget ya, memang apa salahnya kalau sering bercanda atau ngobrol, toh biasanya gak pernah cuma berdua, gw ngerasa biasa aja ah klo lg becanda, etc. Apakah Anda sering merasa seperti itu juga? Jika ya, selamat! berarti jiwa muda Anda masih mengalir di pembuluh darah tubuh Anda..hehe Pemikiran seperti itu sah-sah saja, justru itu anugerah dari Allah Swt. berupa kecerdasan untuk bersikap kritis terhadap suatu hal. Namun satu hal, Dia juga pastinya tak akan membuat sebuah aturan atau larangan yang merugikan manusia. Ada seorang ulama besar mengatakan, Islam itu mengatur segala hal secara benar, jika ada yang ‘kayaknya’ salah, berarti pemikiran atau pandangan kita lah yang sebenarnya salah terhadap hal itu. Kira-kira intinya seperti itu, kalau ada salah2 harap maklum ye..hhe. Jadi maksudnya, semua adab2 dalam islam itu—termasuk yg diatas—pasti punya tujuan yang baik untuk kita. Yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Dia Yang Maha Mengetahui kan? “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S.Al-Baqarah, 2: 216) Percaya atau tidak, ada sebuah penelitian di Inggris tentang perilaku pelajar mengenai ketertarikannya kepada lawan jenis. Hasilnya, disimpulkan bahwa rata-rata anak cowok memandang wanita yang disukainya selama 5 atau 8 detik tanpa teralihkan (lupa berapa) saat pertama kali melihatnya. Yah mungkin bukan benar-benar suka, tapi perasaan tertarik yang sangat kuat. Istilah kerennya sih, love at first sight alias baru liat langsung suka!. Dari sini aja kita bisa lihat, hanya dari penglihatan saja seseorang bisa jadi suka atau disukai, terus mulai ngedeketin atau dideketin lama kelamaan jadi nembak atau ditembak (kalo beda jenis wajar, tapi klo sesama..hii). Memang kelihatannya sih kebanyakan cowok yang agresif gitu, tapi cewek jaman sekarang gak mau kalah euy, haha. Gak deng, biasanya kalo cewe suka atau tertarik ya cuma gitu aja, cuma jadi semacam fans atau admirernya aja, gak sampe ngebet banget pengen dapetin gitu. Ya kan? yang gak setuju ke laut aja sono. Jadi gitu gan. Aturan untuk menundukkan pandangan mungkin gunanya untuk menghindari hal seperti itu. Ya mungkin terdengar sedikit lebay (berlebihan), tapi memang bisa jadi benar loh. Tergantung masing-masing orangnya juga sih. Mungkin ada orang yang cuek banget, ada yang cakep banget atau buruk rupa sekalipun ya biasa aja. Namun ada juga sebaliknya, tiap ngeliat lawan jenis yang ganteng atau cantik sedikit aja langsung suka atau tertarik, pengennya mantengiin terus. Atau juga pada awalnya biasa-biasa aja, ya temenan biasa, eh lama-kelamaan malah jadi TTkM—teman, tapi (kok) mesra?—ya klo pake ‘jalur resmi’ sih namanya jadi pac*ran. So, just dont read! But do it too with the right way, okay?

Share this:

0 Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Wanna leave a comment?