Teater Seni Budaya (˘³ ˘‘)

Jaka Tarub (Jawa Tengah)

Dahulu kala, di Desa Tarub, tinggal­lah seorang janda bernama Mbok Randha Tarub. Sejak suaminya me­­ninggal dunia, ia mengangkat seorang bo­­­cah laki-laki sebagai anaknya. Setelah dewa­sa, anak itu dipanggilnya Jaka Tarub.
Jaka Tarub anak yang baik. Tangannya ringan melakukan pekerjaan. Setiap hari, ia membantu Mbok Randha mengerjakan sawah ladangnya. Dari hasil sawah ladang itulah mereka hidup. Mbok Randha amat mengasihi Jaka Tarub seperti anaknya sendiri.
Waktu terus berlalu. Jaka Tarub ber­anjak dewasa. Wajahnya tampan, tingkah lakunya pun sopan. Banyak gadis yang men­dambakan untuk menjadi istrinya. Na­mun Jaka Tarub belum ingin beristri. Ia ingin berbakti kepada Mbok Randha yang di­anggap­nya sebagai ibunya sendiri. Ia be­ker­ja se­makin tekun, sehingga hasil sawah ladang­nya melimpah. Mbok Randha yang pe­­murah akan membaginya dengan te­tang­ga­nya yang kekurangan.
Suatu hari…
Mbok           :   Jaka Tarub, Anakku. Mbok lihat kamu sudah de­wasa. Sudah
                       pantas meminang gadis. Lekaslah me­nikah, Simbok ingin
                       menimang cucu..
Jaka Tarub  :   Tarub belum ingin, Mbok.
Mbok           :   Tapi jika Simbok tiada kelak, siapa yang akan mengurusmu?
Jaka Tarub :   Sudahlah, Mbok. Semoga saja Sim­bok berumur panjang.
Suatu siang…
Jaka Tarub :   Hari sudah siang, tetapi Simbok be­lum bangun. Kadingaren
Jaka Tarub  :   Simbok sakit ya? (sambil memegang kening Mbok Randha)
Mbok           :   Iya, Le..
Jaka Tarub  :   Waduh… Badan Simbok panas sekali toh.
Ia segera mencari daun dhadhap serep untuk mengompres simbok­nya. Namun rupanya umur Mbok Randha ha­nya sampai hari itu. Menjelang siang, Mbok Randha menghembuskan napas ter­akhirnya.
Sejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. Un­­tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.
Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi me­makan daging rusa. Saat terbangun dari mimpinya, Jaka Tarub menjadi ber­se­­lera ingin makan daging rusa. Maka pagi itu, Jaka Tarub pergi ke hutan sambil mem­bawa sumpitnya. Ia ingin menyumpit rusa. Hingga siang ia berjalan, namun tak seekor rusa pun dijumpainya. Jangankan rusa, ayam pun tak ada. Padahal Jaka Tarub sudah masuk ke hutan yang jarang diambah manusia. Ia kemudian duduk di bawah pohon dekat telaga melepas lelah. Angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur.
Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar de­rai tawa perempuan yang bersuka ria. Jaka Tarub tergagap. “Suara orangkah itu?” gu­mamnya. Pandangannya ditujukan ke te­la­­­ga. Di telaga tampak tujuh perempuan can­­tik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub menganga melihat ke­­cantikan mereka. Tak jauh dari telaga, ter­geletak selendang mereka. Tanpa pikir panjang, diambilnya satu selendang, ke­mu­di­­an disembunyikannya.
Merah          :   Nimas, ayo cepat naik ke darat. Hari su­dah sore. Kita harus
                       segera kembali ke kah­yangan
Bidadari yang lain pun naik ke darat. Mereka kem­bali mengenakan selendang masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tak mene­­mu­kan selendangnya.
Ungu           :   Kakangmbok, selendangku tidak ada.
Keenam kakaknya turut membantu men­­cari, namun hingga senja tak ditemu­kan juga.
Merah          :   Nimas Nawang Wulan, kami tak bi­sa menunggumu lama-lama.
                       Mungkin su­­dah nasibmu tinggal di mayapada.
Merah          :   Kami harus segera kembali ke kah­ya­ngan.
Nawang Wulan menangis sendirian meratapi nasibnya. Saat itulah Jaka Tarub menolongnya. Diajaknya Nawang Wulan pulang ke rumah. Kini hidup Jaka Tarub kembali cerah. Beberapa bulan kemudian, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Keduanya hidup berbahagia. Tak lama kemudian Nawang Wulan melahirkan Nawangsih, anak mereka.
Pada suatu hari, Nawang wulan ber­pesan kepada Jaka Tarub,
Ungu           :   Kakang, aku sedang memasak nasi. Tolong jagakan apinya, aku
                       hendak ke kali. Tapi jangan dibuka tutup kukusan itu.
Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub pe­­na­saran dengan larangan istrinya. Ma­ka dibukanya kukusan itu. Setangkai padi tampak berada di dalam kukusan. “Pan­tas padi di lumbung tak pernah habis. Rupa­nya istriku dapat memasak setangkai padi menjadi nasi satu kukusan penuh,” gumam­nya. Saat Nawang Wulan pulang, ia mem­buka tutup kukusan. Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan hingga hilanglah kesaktiannya. Sejak saat itu, Na­wang Wulan harus menumbuk dan me­nam­pi beras untuk dimasak, seperti wa­ni­ta umumnya. Karena tumpukan pa­di­­nya terus berkurang, suatu waktu, Na­­wang Wulan menemukan selendang bi­da­­­da­ri­nya terselip di antara tumpukan pa­di. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang me­­nyem­bu­nyi­kan selendang itu. Dengan se­ge­ra dipakainya selendang itu dan pergi menemui suaminya.
Ungu           :   Kakang, aku harus kembali ke kah­yangan. Jagalah Nawangsih. Buatkan 
                       da­ngau di sekitar rumah. Setiap malam letak­­kan Nawangsih di sana. Aku
                       akan datang me­nyusuinya. Namun Kakang ja­nganlah mendekat (kemu
                       di­an terbang ke menuju kahyangan)
Jaka Tarub menuruti pesan istrinya. Ia buat dangau di dekat rumahnya. Setiap malam ia memandangi anaknya ber­­­­main-main dengan ibunya. Setelah Na­wang­sih tertidur, Nawang Wulan kem­bali ke kah­ya­ngan. Demikian hal itu ter­jadi berulang-ulang hingga Nawangsih besar. Walaupun de­mikian, Jaka Tarub dan Nawangsih me­­­­­­rasa Na­wang Wulan selalu menjaga me­reka. Di saat ke­duanya mengalami ke­sulit­­an, ban­­tu­­an akan datang tiba-tiba. Ko­non itu ada­lah bantuan dari Nawang Wulan.

Mbok, simbok     :   Bu; ibu.
Kadingaren        :   tumben.
Le, thole             :   panggilan untuk anak lelaki di Jawa.
Diambah           :   dijamah, diinjak.
Nimas               :   adik; panggilan untuk adik perempuan.
Kakangmbok     :   kakak; panggilan untuk kakak perem­puan.
Mayapada          :   bumi.
Kakang             :   kakak; panggilan untuk kakak laki-laki/ untuk suami.
Kali                   :   sungai.
Kukusan            :   alat pengukus berbentuk kerucut, ter­­buat dari bambu yang
                            dianyam.


-----

Nah, itulah teks teater singkat kami :D Yang dilaksanakan di pendopo sekolah usai ujian SKI PKn hari Kamis, 15 Desember 2011 lalu. Yaa hasilnya emang gape gaje dan gate. Tapi gak apa yang penting udah ambil nilai. Soalnya emang kami lagi gak mood banget sama SBD alias Seni Budaya di kelas 9 ni---" Lebih tepatnya udah capek ngikutin tugas2 aneh yang buk Nong kasih tu._. Sebetulnya kami emoh-emohan juga teater kemarin tu. Cuma ya gimana. Kalau gak ambil nilai teater tu, nilai praktek kami KOSONG. Soalnya nari (tugas sebelumnya) juga gak ada kami urus. Jadinya, yaa gak ada nilai nari XD Nah aku jadi si Nila :D Kelompok aku-> Hani (Jaka Tarub), Dinda (Kuning), Bulan (Biru), Ade (Si Mbok Randha & Merah alias kakangmbok), Rahmi (Ungu alias Nawangwulan), Nisa (Jingga), Rani (Hijau), & Mentari (Anaknya Jaka Tarub & Ungu alias Nawangsih).


SEKIAN:)

Vintsuc

Share this:

0 Kommentare:

Kommentar veröffentlichen

Wanna leave a comment?